Selasa, 10 November 2009

Pendidikan Seumur Hidup

Tantangan Globalisasi bagi Para Guru Di Indonesia
Ekonom peraih hadian Nobel, Joseph Stiglitz, mendefinisikan globalisasi sebagai “semakin dekatnya integrasi antar negara dan bangsa di dunia, yang disebabkan oleh runtuhnya batas-batas semu akibat arus modal, jasa, komoditas, pengetahuan dan manusia yang saling melintas antar perbatasan.” Thomas Friedman, di dalam bukunya Dunia Yang Rata (The World is Flat), menekankan bahwa dunia kini telah menjadi lahan bermain yang sejajar.

Lalu apa makna semua itu bagi dunia pendidikan? Sederhananya, di sejumlah negara yang tidak bisa menghasilkan lulusan-lulusan berkualitas internasional akan segera tertinggal di arena kompetisi dunia, karena di dalam paham ‘dunia yang rata’, semua pesaing memiliki kesempatan yang sama. Maka, mereka yang tidak mampu menggunakan kesempatan yang ada, akan segera tertinggal. Lebih jauh lagi, para peneliti pendidikan telah memprediksikan negara-negara yang gagal mengembangkan pendidikan bermutu internasional akan terkena dampak negatif yang terlihat dari tertinggalnya perkembangan ekonomi, politik dan sosial negara tersebut, di tengah dunia yang semakin menyatu.


Kondisi di atas bisa dikatakan sebagai pertanda perlunya sejumlah tindakan darurat untuk mengaji sejauh apa kadar ‘internasional’ di dalam standar pendidikan di Indonesia; dan bagaimana para pengajar/pendidik bisa menyiapkan lahirnya lulusan Indonesia agar menjadi setara dan lebih mampu bersaing dalam skala global.


Para lulusan dalam negeri, di semua tingkatan, masih jauh dari standar yang disyaratkan arena kompetisi global; bahkan di dalam Indonesia sendiri. Laporan terakhir memperlihatkan tak kurang dari 4.5 juta sarjana masuk di dalam kategori ‘menganggur’. Kelompok ini terdiri dari sejumlah sarjana dan lulusan akademi, serta lulusan SMA dalam negeri. Hasil analisa data menunjukkan kondisi tersebut diakibatkan antara lain oleh rendahnya kualitas pendidikan dan pengajaran di Indonesia. Hal ini tidaklah mengejutkan mengingat di antara 2.7 juga guru di negeri ini, hanya 300 ribu orang yang memenuhi kualifikasi formal . Para guru di Indonesia telah lama dibebani dengan beragam masalah termasuk kurangnya pelatihan, kualifikasi pendidikan yang tidak memadai, pendapatan yang rendah dan minimnya fasilitas pendukung lainnya. Menyadari masalah tersebut, pemerintah telah memutuskan untuk menaikkan gaji para guru hingga bernilai total Rp. 50 triliun di tahun 2009; yang berarti kenaikan hingga 100% bagi sebagian guru. Meski demikian, kompensasi dalam bentuk uang semata belumlah memadai dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan untuk bisa memenuhi tolak ukur internasional.

Sejumlah keahlian mendasar sangat dibutuhkan oleh pasar tenaga kerja di Indonesia dan tuntutan ekonomi global. Keahlian tersebut mencakup: berpikir kritis, memecahkan masalah, melihat ‘gambaran besar’/masalah secara keseluruhan (bukan parsial), komunikasi dan menyikapi belajar sebagai proses seumur hidup.

Para peneliti pendidikan seperti Bates (2002) dan Martimore (2001) memberikan sejumlah anjuran bagi para guru untuk menyiapkan diri mereka dan juga para murid dalam menghadapi globalisasi. Kedua ahli itu melihat proses belajar secara aktif dan berdasarkan proyek per proyek (atau per kasus), adalah kebutuhan utama bagi para pemikir yang kritis dan independen dalam mengasah keahlian mereka untuk memecahkan masalah. Di sejumlah negara maju, metode ini dengan cepat menggantikan metode pengajaran tradisional yang selama ini didominasi dengan cara komunikasi satu arah. Keragaman dalam metode dan tehnik mengajar terus bertambah, dan mulai menjadi faktor penentu dalam penyusunan kurikulum. Sebagai contoh, penggunaan komputer dan kemampuan pencarian informasi melalui internet sudah menjadi kebutuhan tidak terpisahkan di dalam dunia informasi seperti saat ini. Dengan internet, informasi yang sama bisa diakses oleh seorang pengajar di New York juga oleh pengajar lain di Papua. Para guru sudah harus mampu menggunakan internet untuk riset, memperbarui materi pegajaran, dan menemukan metode yang lebih baik dalam mendidik melalui sejumlah institusi yang lebih terkemuka di seluruh dunia. Dengan cara ini, para guru tidak perlu tergantung pada pelatihan formal yang disediakan oleh negara, namun bisa terus meningkatkan kemampuan mereka secara mandiri. Para murid juga harus dididik untuk selalu mencari pengetahuan secara mandiri dan memiliki sikap untuk belajar seumur hidup, entah itu melalui internet atau sumber-sumber ilmu lain yang juga terpercaya seperti buku-buku, majalah, atau koran. Pembelajaran yang berkesinambungan amatlah penting karena perubahan adalah satu-satunya faktor pendorong yang permanent di dalam dunia global. Siapa yang tertinggal dari perubahan terkini akan semakin terbengkalai jauh dan akhirnya terabaikan sama sekali.

Suka atau tidak, para guru di Indonesia harus segera menyadari, mereka kini dituntut dan diadili oleh standar internasional dan dibandingkan dengan para guru dari seluruh dunia oleh pemerintah, perusahan multinasional, investor, orang tua dan murid. Bila para guru Indonesia tidak memenuhi standar dunia, maka perusahaan-perusahaan multi nasional akan memilih untuk mendirikan kantor-kantor di tempat lain karena ketiadaan tenaga kerja yang memadai; para investor juga akan meragukan kualitas para calon pemimpin bangsa; para orang tua yang mampu dan murid-murid yang berbakat akan memilih belajar di luar negeri, kondisi ini bisa memicu fenomena yang dikenal sebagai ‘hampa intelektual’ (brain drain) di Indonesia. Bersamaan dengan perayaan Hari Guru Nasional di Indonesia, kutipan dari Henry Brooks amat layak direnungkan, “Seorang guru bisa berpengaruh seumur hidup; dia tak akan bisa menentukan kapan pengaruhnya akan berhenti.” Dalam dunia global, pengaruh seorang guru di Indonesia bisa dikatakan sebagai hampir tak terukur atau terbatas dalam menentukan keberhasilan sebuah bangsa.

Menyadari hal tersebut, Institut Guru Sampoerna Foundation (SF TI) akan mengadakan Kongres Guru Indonesia (KGI) pada bulan November, tanggal 27 dan 28, 2008. Kongres dua hari ini menekankan pada kualitas pengajaran internasional bagi para guru Indonesia, karenanya tema kongres adalah-“Berpikir Global, Bertindak Lokal” (“Think Global, Act Local”). Kongres ini akan mengajak sekitar seribu guru dari seluruh Indonesia untuk mencerahkan dan menstimulasi agar mereka senantiasa memperbarui keahliannya dan mendorong para guru untuk terus meningkatkan kemampuan serta belajar seumur hidup. Direktur SF TI, Kenneth Cock berharap KGI akan memberi inspirasi serta memotivasi para guru Indonesia untuk meningkatkan kualitas kerja mereka. “Kami berharap melalui peningkatan keahlian dan profesionalitas para guru Indonesia, mereka akan memiliki keahlian untuk bersaing secara global tanpa kehilangan identitas sebaga guru Indonesia sejati,” demikian harapan Ken. Semoga, suatu hari kelak, para guru serta lulusan Indonesia akan menjadi kekuatan yang diperhitungkan dalam dunia global.


Sumber : http://www.sampoernafoundation.org

1 comments:

Anonim mengatakan...

moga sukses dech.................

Posting Komentar

Komentarmu sangat berarti bagiku